Showing posts with label Teknik Elektro. Show all posts
Showing posts with label Teknik Elektro. Show all posts

Friday, 24 February 2012

Laporan stabilitas ion kompleks dan endapan dari senyawa Tembaga (II)


I.               TUJUAN PERCOBAAN :
 
Ø  Mengurutkan stabilitas beberapa ion kompleks dari Tembaga (II).
Ø  Mengurutkan stabilitas endapan dari senyawa Tembaga (II).
Ø  Menyimpulkan stabilitas ion kompleks dan endapan dari senyawa Tembaga (II) dengan benar.


II.            ALAT YANG DIPAKAI :

Ø  Tabung Reaksi 20 Buah
Ø  Rak Tabung 1 Buah
Ø  Labu Ukur 100 ml dan 250 ml 1+1 Buah
Ø  Gelas kimia 250 ml dan 600 ml 1+1 Buah
Ø  Pipet ukur 5 ml 2 Buah
Ø  Selang karet 1 Buah
Ø  Bola hisap 1 Buah
Ø  Labu Semprot 1 Buah
Ø  Pengaduk Kaca 1 Buah
Ø  Spatula 1 Buah
Ø  Kacamata 1 Buah

III.           BAHAN YANG DIGUNAKAN :
Ø  Larutan Cu (NO3)2 0,1 M 250 Ml?
Ø  Larutan Amoniak (NH3) 1 M 250 Ml?
Ø  Larutan HCl 1 M 250 Ml
Ø  Larutan NaOH 1 M 250 M
Ø  Larutan Na2CO3 1 M 250 Ml
Ø  Larutan Na2C2O4 1 M 250 Ml
Ø  Larutan KNO2 1 M 250 Ml
Ø  Larutan Na3PO4 1 M 250 Ml
Ø  Aquadest

IV.              DASAR TEORI

Senyawa kompleks telah banyak dipelajari dan diteliti melalui suatu tahapan-tahapan reaksi (mekanisme reaksi) dengan menggunakan ion-ion logam serta ligan yang berbeda-beda. Salah satu keistimewaan dari reaksi kompleks adalah reaksi pergantian ligan melalui efek trans.
Tembaga adalah logam merah muda, yang lunak, dapat ditempa, dan liat. Ia melebur pada 1038ºC. Karena potensial elektrode standarnya positif (+0,34 V untuk pasangan Cu/Cu2+), ia tak larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer, meskipun dengan adanya oksigen ia bisa larut sedikit. Ada dua deret senyawa tembaga. Senyawa-senyawa tembaga(I) diturunkan dari tembaga(I) oksida Cu2O yang merah, dan mengandung ion tembaga(I), Cu+. Senyawa-senyawa ini tak berwarna, kebanyakan garam tembaga(I) tak larut dalam air, perilakunya mirip senyawa perak(I). Mereka mudah dioksidasi menjadi senyawa tembaga(II), yang dapat diturunkan dari tembaga(II) oksida, CuO, hitam. Garam-garam tembaga(II) umumnya berwarna biru, baik dalam bentuk hidrat, padat, maupun dalam larutan air. Garam-garam tembaga(II) anhidrat, seperti tembaga(II) sulfat anhidrat CuSO4, berwarna putih (atau sedikit kuning). Dalam larutan air selalu terdapat ion kompleks tetraakuo [3].
Tembaga memiliki elektron s tunggal di luar kulit 3d yang terisi. Ini agak kurang umum dengan golongan alkali kecuali stoikiometri formal dalam tingkat oksidasi +1. Kulit d yang terisi jauh kurang efektif daripada kulit gas mulia dalam melindungi elektron s dalam muatan inti, sehingga potensial pengionan pertama Cu lebih tinggi daripada golongan alkali. Karena elektron-elektron pada kulit d juga dilibatkan dalam ikatan logam, panas penyubliman dan titik leleh tembaga juga jauh lebih tinggi daripada alkali. Faktor-faktor ini bertanggung jawab bagi sifat lebih mulia tembaga. Pengaruhnya adalah membuat lebih kovalen dan memberi energi kisi yang lebih tinggi [4].
Kebanyakan senyawaan CuI cukup mudah teroksidasi menjadi CuII, namun oksidasi selanjutnya menjadi CuIII adalah sulit. Terdapat kimiawi larutan Cu2+ yang dikenal baik, dan sejumlah besar garam berbagai anion didapatkan, banyak diantaranya larut dalam air, menambah perbendaharaan kompleks [4].
Dalam hal kompleks dari logam Cu, terdapat beberapa macam bilangan koordinasi yang dapat dibentuk oleh logam ini dengan ligan, yaitu:
Bilangan Koordinasi 2 dimana struktur molekulnya yang lazim adalah linear, contoh: ion diklorokuprat(I) [CuCl2]-, ion dibromokuprat(I) [CuBr2]-, karbonilklorotembaga(I) [Cu(CO)Cl], Kalium disianokuprat(I) K[Cu(CN)2], ion diaminatembaga(I) [Cu(NH3)2]+.

Bilangan Koordinasi 3 dengan struktur molekulnya yang lazim adalah trigonal planar, contoh: ion triklorokuprat(I) [CuCl3]2-, ion trinitratokuprat(II) [Cu(NO3)3]-, klorobis(trisikloheksilfosfina)tembaga(I) [CuCl(Pcy3)2].

Bilangan Koordinasi 4 dengan struktur molekulnya yang lazim adalah tetrahedral atau bujur sangkar, contoh: ion tetrasianokuprat(I) [Cu(CN)4]3-, amonium tetraklorokuprat(II) (NH4)2[CuCl4], cesium tetraklorokuprat(II) Cs2[CuCl4], cesium tetrabromokuprat(II) Cs2[CuBr4], ion tetraaminatembaga(II) [Cu(NH3)4]2+

Bilangan Koordinasi 5 dengan struktur molekulnya yang lazim adalah trigonal bipiramidal, contoh: ion pentaklorokuprat(II) [CuCl5]3-

Bilangan Koordinasi 6 dengan struktur molekulnya yang lazim adalah oktahedral, contoh: ion heksaakuotembaga(II) [Cu(H2O)6]2+, ion heksaaminatembaga (II) [Cu(NH3)6]2+, ion tris(etilenadiamina)tembaga(II) [Cu(en)3]2+, kalium heksafluorokuprat(III) K3[CuF6], dan cesium heksafluorokuprat(IV) Cs2[CuF6].

Struktur Molekul Kompleks Bilangan Koordinasi 6

Salah satu kompleks dari tembaga yang memiliki bilangan koordinasi 6 adalah ion heksaakuotembaga(II) [Cu(H2O)6]2+ yang terbentuk jika ion Cu2+ bertemu dengan air dalam larutan, contohnya ketika garam Cu2+ seperti CuSO4 dan Cu(NO3)2 dilarutkan dalam air. Kompleks ini berwarna biru muda dan berbentuk oktahedral terdistorsi tetragonal. Tidak seperti oktahedral normal, pada bentuk terdistorsi ini 2 ikatan Cu-Ligan yang berada di atas dan bawah bangun oktahedral lebih panjang dari 4 ikatan Cu-Ligan yang lain.

Struktur Molekul Kompleks Bilangan Koordinasi 4
Dengan bilangan koordinasi 4, terdapat dua kemungkinan struktur yang dapat ditemukan yaitu tetrahedral dan bujur sangkar.

Struktur Tetrahedral
Pada Cesium tetraklorokuprat(II) Cs2[CuCl4], jika ditinjau dari teori ikatan valensi dapat dijelaskan strukturnya adalah tetrahedral karena ligan menempati orbital hibrida sp3, sifat magnetiknya sesuai dengan fakta eksperimen yaitu paramagnetik yang setara dengan adanya satu elektron yang tidak berpasangan.

Struktur Bujur Sangkar
Bentuk orbital hibrida dsp2 identik dengan struktur bujur sangkar sehingga penjelasan teori ini dapat diterima. Sifat magnetiknya setara dengan satu elektron tidak berpasangan. Kompleks ini berwarna kuning, berbeda dari kompleks dengan kation yang lain yaitu Cs2[CuCl4] yang berwarna oranye.

Sebelum memahami stabilitas dari ion kompleks, harus dipahami terlebih dahulu pengertian mengenai istilah kestabilan itu sendiri. Dalam mempelajari suatu sistem reaksi dan senyawa kimia, ada dua pendekatan yang bisa digunakan, yaitu pendekatan secara termodinamika, dan pendekatan kinetika.
Pada pendekatan termodinamika, maka kita membicarakan mengenai keadaan awal dan akhir dari sistem tersebut. Pada tinjauan termodinamika ini, suatu senyawa kimia dapat dikatakan stabil atau tidak stabil. Selain stabilitas senyawa, beberapa besaran yang dibahas dalam pendekatan termodinamika adalah konstanta kesetimbangan, energi ikatan, potensial reduksi, dan besaran lain yang mempengaruhi harga konstanta kesetimbangan. Untuk senyawa kompleks, Biltz (1927) menggolongkan senyawa kompleks menjadi kompleks stabil dan kompleks tidak stabil. Kompleks yang stabil memiliki kemampuan yang besar untuk tetap mempertahankan keberadaan/identitasnya dalam suatu larutan, sementara kompleks yang tidak stabil akan terurai dengan mudah dalam larutan.
Pendekatan kinetika lebih menitikberatkan pada mekanisme yang  terjadi dalam reaksi dan kecepatan berlangsungnya reaksi. Selain itu, pendekatan kinetika juga membahas energi aktivasi dalam reaksi, pembentukan kompleks intermediate, konstanta laju reaksi dan besaran-besaran yang mempengaruhinya. Dalam pandangan secara kinetika, maka suatu senyawa dapat dikatakan sebagai suatu senyawa yang labil, atau senyawa inert. Terkait dengan senyawa kompleks, Taube (1950) telah mengklasifikasikan senyawa kompleks menjadi kompleks labil dan kompleks inert berdasarkan laju pertukaran ligan kompleks tersebut. Kompleks yang labil mengalami pertukaran ligan dengan cepat. Sebaliknya pada kompleks inert, pertukaran ligan berlangsung dengan sangat lambat atau bahkan tidak berlangsung sama sekali.
Karena tinjauan yang digunakan dalam aspek kinetika dan termodinamika berbeda, maka bukan tidak mungkin suatu kompleks yang stabil secara termodinamika jika ditinjau secara kinetika merupakan kompleks yang labil. Sebaliknya, suatu kompleks yang tidak stabil mungkin saja merupakan kompleks inert.
Stabilitas suatu senyawa bergantung pada energi reaksinya, sedangkan labilitas senyawa bergantung pada energi aktivasi dari senyawa tersebut.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stabilitas Ion Kompleks
1. Aspek ion pusat
a. Rapat muatan (perbandingan muatan dengan jari-jari atom)
Stabilitas ion kompleks bertambah jika rapat muatan ion pusat bertambah
b. CFSE (energi psntabilan medan ligan)
Stabilitas ion kompleks bertambah dengan adanya CFSE, karena CFSE pada   dasarnya merupakan energi penstabilan tambahan yang diakibatkan oleh terjadinya splitting orbital d. Pengaruh CFSE terhadap K dapat dilihat pada diagram berikut.
Bulatan-bulatan pada gambar tersebut adalah harga log K relatif masing-masing logam bedasarkan eksperimen, sedang garis putus-putus merupakan kecenderungan harga log K secara teoritis dengan tanpa memperhitungkan CFSE.
c. Polarisabilitas
Ion-ion logam klas a (asam keras) yaitu yang memiliki muatan tinggi dan ukuran kecil akan membentuk kompleks ysng stabil jika ligannya berasal dari basa keras, yaitu yang elektronegatifitasya besar dan berukuran kecil
2. Aspek ligan
a. Efek khelat
Kompleks khelat lebih stabil dibanding kompleks nonkhelat analog (yang atom donornya sama).  [Ni(en)3]3+ dengan β3 sebesar 4.1018 adalah lebih stabil dibanding [Ni(NH3)6]3+ β6 sebesar 108
a. Ukuran cincin
Jika ligan tidak memiliki ikatan angkap, ikatan cincin 5 adalah yang paling stabil, tetapi jka    ligan memiliki ikatan rangkap, maka yang paling stabil adalah ikatan cincin 6.
b. Hambatan ruang (steric effect)
Ligan-ligan bercabang pada umumnya kurang stabi dibanding ligan-ligan tak     bercabang yang analog.
c. Polarisabilitas
Ion-ion logam klas a (asam keras) yaitu yang memiliki muatan tinggi dan ukuran kecil akan membentuk kompleks ysng stabil jika ligannya berasal dari basa keras, yaitu yang elektronegatifitasya besar dan berukuran kecil
IV.3 Kestabilan Kinetika.
Kestabilan kinetika menunjuk pada enetgi aktivasi (∆G#) pada substitusi reaksi pertukaran ligan. Kestabilan kinetika bertambah jika ∆G# semakin besar. Kompleks yang ligannya dapat digantikan oleh ligan lain dengan cepat (kurang dari 1 menit pada suhu 25 oC dan konsentrasi larutan 0,1 M) disebut kompleks labil, sebaliknya jika reaksi pertukarannya berlangsung lambat disebut kompleks inert (lembam).
Seringkali kompleks stabil bersifat inert dan kompleks tidak stabil bersifat labil, namun hal itu tidak berhubungan. Bisa saja suatu kompleks stabil namun labil. Sebagai contoh, CN- membentuk kompleks yang sangat stabil dengan Ni2+, hal ini tercermin dari harga K yang besar untuk reaksi berikut :
[Ni(H2O)6]2+ +     4CN- ↔          [Ni(CN-)4]2- +     6H2O
Namun jika ke dalam larutan ditambahkan ion berlabel 13CN- , ternyata terjadi reaksi pertukaran ligan yang sangat cepat antara  CN- dengan 13CN- seperti ditunjukkan pada persamaan reaksi berikut :
[Ni(CN-)4]2- +     4 13CN- ↔    [Ni(13CN-)4]2- +    4CN-
Kasus sebaliknya, kompoleks [Co(NH3)6]3+ tidak stabil dalam larutan asam, sehingga reaksi berikut hampir sempurna berjalan ke kanan.
4[Co(NH3)6]3+ +    20H+ +     26H2O     ↔    4[Co(H2O)6]3+ +    24NH4+ +   O2
Akan tetapi [Co(NH3)6]3+ dapat tinggal dalam larutan asam pada suhu kamar selama beberapa hari dengan tanpa terjadi perubahan.
Ini berarti bahwa kestabilan suatu kompleks tidak menjamin keinertannya, sebaliknya kompleks yang tidak stabil dapat saja inert..
Kestabilan kinetika kompleks oktahedral dapat diprediksi berdasarkan Aturan Taube, yaitu :
  • Kompleks oktahedral labil bilamana pada atom pusatnya
-     mengandung elektron pada orbital eg atau
-     mengandung elektron pada orbital d kurang dari 3.
  • Kompleks oktahedral inert bilamana pada atom pusatnya
-          tidak mengandung elektron pada orbital eg dan
-          mengandung elektron pada orbital d minimal 3.
Aturan Taube tersebut logis dan dapat dinalar. Kompleks yang mengandung elektron pada orbital eg labil, karena elektron tersebut posisinya dekat (behadapan langsung) dengan ligan sehingga memberikan tolakan yang signifikan terhadap ligan dan dengan demikian ligan tersebut relatif mudah lepas dan digantikan oleh ligan lain. Kompleks yang mengandung elektron pada orbital d kurang dari 3 labil, karena pada kompleks tersebut masih terdapat minimal 1 orbital t2g yang kosong dimana ligan pengganti dapat mendekati ion pusat dengan tolakan yang relatif kecil.



V.            PROSEDUR KERJA

Disiapkan tabung reaksi yang bersih sebanyak 7 buah lalu beri tanda (nomor),
 Masing-masing tabung reaksi diisi dengan Cu(NO3)2 0,1 M sebanyak 2 ml,
 Kemudian setiap tabung ditambahkan lagi NH3 1 M sebanyak 2 ml ( catat setiap perubahan yang terjadi ),
?
 Lalu disetiap tabung ditambahkan larutan sebagai berikut :
 Tabung 1
Ø : ditambahkan larutan NH3 1 M sebanyak 2 ml,
 Tabung 2
Ø : ditambahkan larutan HCl 1 M sebanyak 2 ml,
 Tabung 3
Ø : ditambahkan larutan NaOH 1 M sebanyak 2 ml,
 Tabung 4
Ø : ditambahkan larutan Na2CO3 1 M sebanyak 2 ml,
 Tabung 5
Ø : ditambahkan larutan Na2C2O4 1 M sebanyak 2 ml,
 Tabung 6
Ø : ditambahkan larutan KNO2 1 M sebanyak 2 ml,
 Tabung 7
Ø : ditambahkan larutan Na3PO4 1 M sebanyak 2 ml,
 Dihomogenkan larutan yang berada didalam
? masing-masing tabung reaksi,

VI.          DATA PENGAMATAN
NO. TABUNG
PERLAKUAN
HASIL PENGAMATAN

-      Cu2+ 2 ml + 2 ml  NH3


-      Cu2+ 2 ml + 4 ml  NH3

-      Cu2+ 2 ml + 5 ml  NH3

-        Warna larutan ion Cu2+ biru muda Ditambahkan 2 ml NH3 menjadi biru tua ada endapan.
-        Warna larutan biru tua dan tidak terdapat endapan.
-        Warna larutan biru tua dan tidak terdapat endapan


-       2 ml Cu2+ + 2 ml NaOH
-        Warna larutan ion Cu2+ biru muda Ditambahkan 2 ml OH-















PEMBAHASAN
A.    Reaksi – reaksi yang terjadi antara lain sebagai berikut:
Pada praktikum ini kita akan melihat hasil reaksi dari tembaga 2 dengan beberapa ligan.
1.         Reaksi ion hekasaquotembaga(II) dengan ion hidroksida
Pada reaksi ini kita dapat melihat pembentukan endapan warna biru. Hal ini terjadi karena Ion hidroksida (dari, katakanlah, larutan natrium hidroksida) menggantikan ion hidrogen dari ligan air dan kemudian melekat pada ion tembaga. Setalah ion hidrogen dihilangkan dari dua molekul air, maka akan diperoleh kompleks tidak bermuatan – kompleks netral. Kompleks ini tidak larut dalam air dan terbentuk endapan.
Pada tabung reaksi, perubahan warna yang terjadi adalah:
2.         Reaksi ion heksaaquotembaga(II) dengan larutan amonia
Amonia dapat berperan sebagai basa maupun ligan. Dengan jumlah amonia yang sedikit, ion hidrogen dihilangkan dengan pasti seperti pada kasus ion hidrogen menghasilkan kompleks netral.
Endapan yang terbentuk larut saat ditambahkan amonia berlebih.

Amonia menggantikan air sebagai ligan untuk menghasilkan ion tetraamindiaquotembaga(II). Dengan catatan hanya empat dari enam molekul air yang digantikan.
[Cu(H2O)6]2+(aq) +4 NH3                        [Cu(NH3)6]2+ + 4 H2O
Perubahan warna yang terjadi adalah:
3.         Reaksi ion heksaaquotembaga(II) dengan ion karbonat
maka akan diperoleh dengan mudah endapan tembaga(II) karbonat seperti gambar di bawah ini:

4.    Reaksi pertukaran ligan yang melibatkan ion klorida
Pada percobaan ini,  Jika di tambahkan asam klorida ke dalam larutan yang mengandung ion heksaaquotembaga(II), enam molekul air digantikan oleh empat ion klorida.
Cl-
 
Reaksi yang terjadi berlangsung reversibel.
Karena reaksi berlangsung secara reversibel, maka yang kita memperoleh campuran warna dari kedua ion kompleks.
Dari hasil pengamatan kami pada percobaan ini reaksi yang terjadi tidak mengalami perubahan warna. Walaupun secara teori dari hasil reaksi ini akan menghasilkan warna hijau seperti gambar dibawah ini.
Hal ini terjadi mungkin karena ada tambahan air ke dalam larutan yang berwarna hijau, maka larutan tersebut akan kembali berwarna biru.
Dimana dalam mereaksikan ion tetraklorokuprat(II) dengan ion tetraklorokuprat(II) kita mungkin dapat menemukan beraneka warna ion tetraklorokuprat(II) mulai dari hijau minyak zaitun atau kuning. Jika kamu menambahkan air ke dalam larutan yang berwarna hijau, maka larutan tersebut akan kembali berwarna biru.
B.    Stabilitas senyawa kompleks yang terbentuk dari ion tembaga (II) dengan beberapa ligan
Pada praktikum ini kita ingin menentukan urutan stabilitas dari ion kompleks tembaga (II) dengan ligan – liganya. Pada tahap pertama


CO, CN- > phen > NO2- > en > NH3 > NCS- > H2O > F- > RCOO- > OH- > Cl- > Br- > I-


I < Br < S2− < SCN < Cl < NO3 < N3 < F < OH < C2O42− < H2O < NCS < CH3CN < py < NH3 < en < 2,2'-bipiridina < phen < NO2 < PPh3 < CN < CO

Tolong Komentnya!!!!!!!!!!!!

Makalah Kebakaran


KEBAKARAN



 








NAMA          : MURNI
NIM              :331 11 026
KELAS         : I B




JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
2011 





KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas berkat dan Rahmat-nya kita dapat menjalankan sebuah kehidupan dengan penuh realita yang berkepanjangan. Dimana kita dapat mebuat sebuah makalah penuh dengan kesadaran dan tidak kesadaran.
Dalam membuat sebuah penyusunan kata untuk merangkai sebuah kata hanya ini yang aku bisa. Tidak lebih dan tidak kurang dari sebuah apa yang kita pikirkan dan hanya ini yang aku bisa. Dimana kita dapat membuat sebuah makalah  yang bertema hukum dan HAM dalam islam. Semua isi-nya hanya bisa di pahami dan bisa di mengerti.
Demikian atas partisapasi kami dalam membuat makalah ini dengan penuh kesederhanaan. Karena hanya ini yang aku bisa. Kalau ada kritik dan saran tolong di sempurnakan.


Penulis







BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Kebakaran adalah suatu peristiwa yang terjadi  akibat tidak terkendalinya sumber energi. Siklus ini  berisi rangkaian demi rangkaian panjang peristiwa (event dinamic) yang dimulai dari pra kejadian, kejadian dan siklusnya serta konsekuensi yang mengiringinya. Kejadian tersebut akan tercipta apabila kondisi dan beberapa  syarat pencetusnya  terpenuhi, utamanya pada saat  pra kejadian.
Ada poin-poin yang menjadi persyaratan dasar yang apabila gagal dilakukan pe–ngendalian akan memicu peristiwanya, kemudian akan memasuki tahapan tidak terkendali dan sukar dipadamkan. Syarat kondisi tersebut di antaranya adalah terdapat  bahan yang dapat terbakar, misalnya minyak, gas bumi, kertas, kayu bahkan rumput kering dan sebagainya. Bilamana bahan yang dapat terbakar tersebut berada dalam kondisi tertentu dan bertemu pencetusnya maka seketika akan  segera menimbulkan api. Sedangkan pencetus itu sendiri penyebabnya cukup banyak di antaranya energi petir, api terbuka, listrik bahkan hanya sekedar percikan bunga api. Penelitian yang terbaru dan mengejutkankan pemantik kebakaran tersebut juga bisa timbul akibat frekuensi telpon genggam.
Peristiwa munculnya api awal berlanjut menjadi kebakaran besar hanya butuh waktu dibawah 4 menit atau 10 menit. Ukuran waktu 4 -10 menit  tersebut hasil dari suatu pengkajian dan studi pengalaman dimana tahapan api belum berkembang dan meluas. Setelah lebih dari waktu yang dimaksud, api akan berkembang menjadi api bertumbuh (growth) dan menjadi penuh (full steady fire) dengan suhu  mencapai 600 derjat Celsius sampai 1000 derajat Celcius lebih, dimana ini su–dah berada pada tahapan sulit dipadamkan. Hanya  perangkat hidran dan sejenisnya yang dapat mengurangi dan memadamkan.
Siklus api awal menuju kondisi tidak terkendali ini disebabkan pada waktu menit menit awal peristiwa kebakaran tersebut, terdapat serentetan umpan balik yang mempercepat berkembangnya api itu sendiri. Rentetan umpan balik tersebut adalah bertambahnya suhu atau temperatur yang akan mempercepat penguapan benda cair atau  sublimasi benda yang terbakar dan terhisapnya udara (oksidasi) dan mem–percepat terjadinya fire point (siklus bersambung). Waktu yang singkat dan peristiwa umpan balik itulah menjadi faktor penentu percepatan tingkat kobaran api. Bila tidak dilakukan penanganan secara sistematis akan berakhir tragis dan menimbulkan kerugian yang luas. Terkadang membawa korban jiwa manusia.
Kenapa hal tersebut terjadi? Ada beberapa pertanyaan yang terkadang sulit untuk dijawab secara umum dalam menghadapi waktu dibawah 4 menit dan hal tersebut menjadi jawaban klasik mengapa dan kenapa  peristiwa kebakaran selalu  terjadi tanpa dapat dicegah atau diminimalisasi kejadiannya. Takdir Tuhanlah,  musibahlah  atau yang lebih ekstrem menyalahkan  petugas PMK-nya yang bolot dan lelet.
Kebakaran merupakan kejadian yang tidak diinginkan bagi setiap orang dan kecelakaan yang berakibat fatal. Kebakaran ini dapat mengakibatkan suatu kerugian yang sangat besar baik kerugian materil maupun kerugian immateriil. Sebagai contoh kerugian nyawa, harta, dan terhentinya proses atau jalannya suatu produksi/aktivitas, jika tidak ditangani dengan segera, maka akan berdampak bagi penghuninya. Jika terjadi kebakaran orang-orang akan sibuk sendiri, mereka lebih mengutamakan menyelamatkan barang-barang pribadi daripada menghentikan sumber bahaya terjadinya kebakaran, hal ini sangat disayangkan karena dengan keadaan yang seperti ini maka terjadinya kebakaran akan bertambah besar. Dengan adanya perkembangan dan kemajuan pembangunan yang semakin pesat, resiko terjadinya kebakaran semakin meningkat. Penduduk semakin padat, pembangunan gedung-gedung perkantoran, kawasan perumahan, industry yang semakin berkembang sehingga menimbulkan kerawanan dan apabila terjadi kebakaran membutuhkan penanganan secara khusus.

B.            Rumusan masalah


C.            Tujuan Penulisan

1.             Menjelaskan pengertian api dan kebakaran
2.             Menyebutakan dan menjelaskan tentang unsur-unsur api serta pemadamannya dan proses terjadinya api
3.             Menyebutkan dan menjelaskan klasifikasi kelas kebakaran
4.             Menyebutkan tahapan-tahapan pengembangan api/kebakaran
5.             Menyebutkan dan menjelaskan penyebab kebakaran






















BAB II
PEMABAHSAN
A.           PENGERTIAN
Bekerja di sebuah laboratorium ataupun di perusahaan – perusahaan industri jelas tak bisa lepas dari kemungkinan kecelakaan kerja atau bahaya yang salah satunya adalah kebakaran. Aspek bahaya ini menjadikan pekerja laboratorium ataupun diperusahaan membuat dan menciptakan suatu system keselamatan kerja. Selain itu perlu difahami pula bagaimana proses terjadinya kebakaran, bahan-bahan kimia apa saja yang mudah terbakar serta bagaimana cara penanggulangannya secara benar.
Bahasan ini akan saya uraikan secara lengkap mulai dari definisi api dan kebakaran. Definisi api adalah suatu fenomena yang dapat diamati dengan adanya cahaya dan panas serta adanya proses perubahan zat menjadi zat baru melalui reaksi kimia oksidasi eksotermal. Api terbentuk karena adanya interaksi beberapa unsur/elemen yang pada kesetimbangan tertentu dapat menimbulkan api. Sedangkan kebakaran yaitu peristiwa bencana yang ditimbulkan oleh api, yang tidak dikehendaki oleh manusia dan bisa mengakibatkan kerugian nyawa dan harta.
Definisi umumnya kebakaran adalah suatu peristiwa terjadinya nyala api yang tidak dikehendaki, sedangkan defenisi khususnya adalah suatu peristiwa oksidasi antara tiga unsur penyebab kebakaran.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixFxknsUu5V-wOzCZmeKsAF-O6ygs4W9gllzK6hYXf8ysh6X3qU3kVPEzQj7TeK4IaVBj22uFzbL-U0d2VAWj6luNyws3JH8_Lel3dKF9HQb7Dduhd163ExlHg2BYsYDk-jaF-1tfv1HlK/s1600/segitiga.jpgDitinjau dari jenis api, dapat dikategorikan menjadi jenis api jinak dan liar. Jenis api jinak artinya api yang masih dapat dikuasai oleh manusia, sedang jenis api liar tidak dapat dikuasai. Inilah yang dinamakan kebakaran.

Proses kebakaran atau terjadinya api sebenarnya bisa kita baca dari teori segitiga api yang meliputi elemen bahan, panas dan oksigen. Tanpa salah satu  dari ketiga unsur tersebut, api tidak akan muncul. Oksigen sendiri harus membutuhkan diatas 10% kandungan oksigen di udara yang diperlukan untuk memungkinkan terjadinya proses pembakaran.

Sedang mengenai sumber panas bisa bisa muncul dari beberapa sebab antara lain :
  1. Sumber api terbuka yaitu penggunaan api yang langsung dalam beraktifitas seperti : masak, las, dll. 
  2. Listrik Dinamis yaitu panas yang berlebihan dari sistem peralatan/rangkaian listrik seperti : setrika, atau karena adanya korsleting. 
  3. Listrik Statis yaitu panas yang ditimbulkan akibat loncatan ion negatif dengan ion positif seperti : peti. 
  4. Mekanis yaitu panas yang ditimbulkan akibat gesekan/benturan benda seperti : gerinda, memaku, dll.
  5. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXRYbpy5vzovavuREX8qd4jKlH11kOkhFSFlXDh95nrv8xKesJExWgXD_rckp-dCdCXlILuhGUaM3gyby5NxRdjtVoDMq1xcSbRBjSgEBgPstty51t6rEl7t0qD80HsfhZntP2UuwmZZ0d/s1600/tetrahidral.jpgKimia yaitu panas yang timbul akibat reaksi kimia seperti : karbit dengan air.

Tetrahidral Api
Bisa terjadi juga kecenderungan terjadi reaksi kimia akibat adanya elemen ke empat. Inilah yang biasa dinamakan tetrahidral api seperti gambar disamping.


B.                Pengetahuan Dasar Api
Seperti telah dikemukakan diatas reaksi terjadinya api dari tiga jenis unsur yaitu :
1.        Fuel ( Bahan Bakar )
a.         Pengertian bahan bakar
 Yang dimaksud bahan bakar ialah semua jenis benda yang dapat terbakar
b.         Jenis bahan bakar
Bahan bakar umumnya dubagi atas 3 jenis antara lain jenis bahan bakar padat,bahan bakar gas , dan cair
1.      Benda Padat
Bahan bakar padat yang terbakar akan meninggalkan sisa berupa abu atau arang setelah selesai terbakar. Contohnya: kayu, batu bara, plastik, gula, lemak, kertas, kulit dan lain-lainnya.
2.       Benda Cair
Bahan bakar cair contohnya: bensin, cat, minyak tanah, pernis, turpentine, lacquer, alkohol, olive oil, dan lainnya.
3.      Benda Gas
Bahan bakar gas contohnya: gas alam, asetilen, propan, karbon monoksida, butan, dan lain-lainnya
c.         Sifat Umum bahan bakar 
Setiap jenis bahan bakar mempunyai sifat - sifat khusus,tetapi pada prinsipnya semua jenis bahan bakar mempunyai sifat-sifat umum antara lain mudah terbakar dan dapat terbakar.
2.        Oksigen / O2 ( Zat Asam)
a.         Pengertian Oksigen    
Suatu jenis gas yang sangat diperlukan dalam proses kehidupan bagi semua mahluk'
b.         Prosentase Oksigen diudara 
Udara terdiri dari atas bermacacm - macam gas dengan komposisi sebagai berikut :
        - Gas Nitrogen / N2   : kurang lebih 78 %
        - Gas Oksigen / O2    : kurang lebih 21%
        - Gas Karbondioksida: kurang lebih 1%  
Jumlah gas oksigen yang prosentasinya 21% inilah yang selalu dibutuhkan untuk prroses kehidupan.
c.         Fungsi Oksigen yang terjadinya Api ( Pembakaran )
Gas oksigen merupakan salah satu unsur yang harus ada ,sehngga tanpa oksigen api tidak dapat terjadi pada keadaan normal ,dimana jumlah prosentase oksigen diudara adalah 21% merupakan jumlah yang memadai untuk proses terjadinya api . Dan jumlah minimal prosentase oksigen di udara yang masih dapat        mbantu dalam proses terjadinya api adalah 15%.
3.      Source Of Igition  ( sumber nyala )
a.         Pengertian Sumber Nyala  dan Sumber Panas
-            Sumber panas ialah semua benda atau kejadian yang menimbulkan panas
-           Sumber Nyala ialah semua benda atau kejadian yang menimbulkan Panas pada suatu tingkat temperatur tertentu dan telah dianggap berbahaya bagi timbulnya api / kebakaran.
b.        Terjadinya sumber nyala
Ada beberapa faktor penyebab terjadinya sumber nyala, antaa lain :
- Sumber nyala terjadi karena proses / peristiwa Alam
- Sumber nyala terjadi karena proses / peristiwa Kimia
- Sumber nyala terjadi karena proses / peristiwa Listrik
- Sumber nyala terjadi karena proses / peristiwa Mekanik
- Sumber nyala terjadi karena proses / peristiwa Nuklir

C.                 Klasifikasi Kebakaran/Pengelompokkan Kebakaran
Klasifikasi/pengelompokkan kebakaran menurut peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 04/MEN/1980 Bab I Pasal 2, ayat 1 adalah sebagai berikut :
  1. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlYJjX10wT8yFyjZZOR_LYUALntTrFD3oitI1jL0Xkb6AdJ20__ceeRFhRz2Ybgcsouysmbqt6UQI-Z6lY6-JGDU2JCQUfZ2BWSF8V9ZL8fqp0ysn56PFCZ6YctihasR38bQPyq3T61LJ5/s320/tipe+pemadam.jpgKebakaran Klas A
Adalah kebakaran yang menyangkut benda-benda padat kecuali logam. Contoh : Kebakaran kayu, kertas, kain, plastik, dsb.
Alat/media pemadam yang tepat untuk memadamkan kebakaran klas ini adalah dengan : pasir, tanah/lumpur, tepung pemadam, foam (busa) dan air .
  1. Kebakaran Klas B
Kebakaran bahan bakar cair atau gas yang mudah terbakar.
Contoh : Kerosine, solar, premium (bensin), LPG/LNG, minyak goreng.
Alat pemadam yang dapat dipergunakan pada kebakaran tersebut adalah Tepung pemadam (dry powder), busa (foam), air dalam bentuk spray/kabut yang halus.
  1. Kebakaran Klas C
Kebakaran instalasi listrik bertegangan. Seperti : Breaker listrik dan alat rumah tangga lainnya yang menggunakan listrik.
Alat Pemadam yang dipergunakan adalah : Carbondioxyda (CO2), tepung kering (dry chemical). Dalam pemadaman ini dilarang menggunakan media air.
  1. Kebakaran Klas D
Kebakaran pada benda-benda logam padat seperti : magnesum, alumunium, natrium, kalium, dsb.
Alat pemadam yang dipergunakan adalah : pasir halus dan kering, dry powder khusus.
Tabel Klasifikasi Kebakaran
RESIKO
MATERIAL
ALAT  PEMADAM
Class A
Kayu, kertas, kain
Dry Chemichal Multiporse dan ABC soda acid
Class B
Bensin, Minyak tanah, varnish
Dry Chemichal foam ( serbuk bubuk ), BCF  (Bromoclorodiflour Methane), CO2, dan gas Hallon
Class C
Bahan – bahan seperti asetelin, methane, propane dan gas alam
Dry Chemichal, CO2, gas Hallon dan BCF
Class D
Uranium, magnesium dan titanium
Metal x, metal guard, dry sand dan bubuk pryme

Dari keempat jenis kebakaran tersebut yang jarang ditemui adalah kelas D, biasanya untuk kelas A, B dan C alat pemadamnya dapat digunakan dalam satu tabunng / alat, kecuali bila diperlukan jenis khusus.
D.          Factor penyebab terjadinya kebakaran
Secara umum, kebakaran disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor manusia dan faktor teknis.
·                Faktor Manusia
Sebagian besar kebakaran yang disebabkan oleh faktor manusia timbul karena kurang pedulinya manusia tersebut terhadap bahaya kebakaran dan juga kelalaian. Sebagai contoh:
1.      Merokok di sembarang tempat, seperti ditempat yang sudah ada tanda “Dilarang Merokok”.
2.      Menggunakan instalasi listrik yang berbahaya, misal sambungan tidak benar, mengganti sekering dengan kawat.
3.      Melakukan pekerjaan yang berisiko menimbulkan kebakaran tanpa menggunakan pengamanan yang memadai, misalnya mengelas bejana bekas berisi minyak atau bahan yang mudah terbakar
4.      Pekerjaan yang mengandung sumber gas dan api tanpa tanpa mengikuti persyaratan keselamatan, misalnya memasak menggunakan tabung gas LPG yang bocor dan lain-lain.
·         Faktor Teknis
Faktor Teknis lebih disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai hal-hal yang memicu terjadinya kebakaran, misalnya:
1.      Tidak pernah mengecek kondisi instalasi listrik, sehingga banyak kabel yang terkelupas yang berpotensi terjadi korsleting yang bisa memicu terjadinya kebakaran
2.      Menggunakan peralatan masak yang tidak aman, misalnya menggunakan tabung yang bocor, pemasangan regulator yang tidak benar, dan lain-lain
3.      Menempatkan bahan yang mudah terbakar didekat api, misalnya meletakkan minyak tanah atau gas elpiji didekat kompor
4.      Menumpuk kain-kain bekas yang mengandung minyak tanpa adanya sirkulasi udara. Bila kondisi panas, kondisi seperti ini bisa memicu timbulnya api.
Berikut penggolongan penyebab kebakaran beserta simbolnya dapat dilihat dalam tabel berikut :
1.             Alat, disebabkan karena kualitas alat yang rendah, cara penggunaan yang salah, pemasangan instalasi yang kurang memenuhi syarat. Sebagai contoh : pemakaian daya listrik yang berlebihan atau kebocoran.
2.             Alam, sebagai contoh adalah panasnya matahari yang amat kuat dan terus menerus memancarkan panasnya sehingga dapat menimbulkan kebakaran.
3.              Penyalaan sendiri, sebagai contoh adalah kebakaran gudang kimia akibat reaksi kimia yang disebabkan oleh kebocoran atau hubungan pendek listrik.
4.              Kebakaran disengaja, seperti huru – hara, sabotase dan untuk mendapatkan asuransi ganti rugi.

·                Tabel  Penyebab Kebakaran
Alam
Kemajuan Teknologi

Perkembangan Penduduk
Matahari
Gempa bumi
Petir
Gunug merapi
Listrik
Biologis
Kimia
Ulah manusia :
−   sengaja
−   tidak sengaja
−   awam ( ketidakpahaman )

Penyebab kebakaran dapat dilihat secara mendalam dari beberapa faktor berikut di bawah ini :
a.              Faktor Non Fisik
Lemahnya peraturan perundang – undangan yang ada, serta kurangnya  pengawasan terhadap pelaksanaannya ( Perda No. 3 Tahun 1992 ).
·         Adanya kepentingan yang berbeda antar berbagai instansi yang berkaitan dengan usaha – usaha pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran.
·         Kondisi masyarakat yang kurang mematuhi peraturan perundang – undangan yang berlaku sebagai usaha pencegahan terhadap bahaya kebakaran.
·         Lemahnya usaha pencegahan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan yang dikaitkan dengan faktor ekonomi, dimana pemilik bangunan terlalu mengejar keuntungan dengan cara melanggar peraturan yang berlaku.
·         Dana yang cukup besar untuk menanggulangi bahaya kebakaran pada bangunan terutama bangunan tinggi.
b.              Faktor Fisik
·         Keterbatasan jumlah personil dan unit pemadam kebakaran serta peralatan.
·         Kondisi gedung, terutama gedung tinggi yang tidak teratur.
·         Kondisi lalu lintas yang tidak menunjang pelayanan penanggulangan bahaya kebakaran.

E.           Proses Terjadinya Kebakaran

Terjadinya kebakaran adalah merupakan suatu proses yang berkelanjutan ,dimana proses tersebut juga merupakan peristiwa reaksi kimia , dengan unsur - unsur yang terlibat didalamnya antara lain ;
1.        Adanya bahan bakar atau benda - benda yg dapat terbakar
2.        Adanya gas oksigen /O2 yang jumlah prosentasinya cukup memadai untuk proses pembakaran
3.         Adanya sumber nyala yang dapat menimbulkan kebakaran
Rantai Reaksi Kimia
Rantai reaksi kimia adalah peristiwa dimana ketiga elemen yang ada saling bereaksi secara kimiawi, sehingga yang dihasilkan bukan hanya pijar tetapi berupa nyala api atau peristiwa pembakaran.

CH4 + O2 + (x)panas ----> H2O + CO2 + (Y)panas

Dalam proses kebakaran terjadi rantai reaksi kimia, dimana setelah terjadi proses difusi antara oksigen dan uap bahan bakar, dilanjutkan dengan terjadinya penyalaan dan terus dipertahankan sebagai suatu reaksi kimia berantai, sehingga terjadi kebakaran yang berkelanjutan.
Proses kebakaran berlangsung melalui beberapa tahapan, yang masing – masing tahapan terjadi peningkatan suhu, yaitu perkembangan dari suatu rendah kemudian meningkat hingga mencapai puncaknya dan pada akhirnya berangsur – angsur menurun sampai saat bahan yang terbakar tersebut habis dan api menjadi mati atau padam. Pada umumnya kebakaran melalui dua tahapan, yaitu :
a.      Tahap Pertumbuhan ( Growth Period )
b.     Tahap Pembakaran ( Steady Combustion )
Tahap tersebut dapat dilihat pada kurva suhu api di bawah ini.

Gambar Kurva Suhu Api
Pada suatu peristiwa kebakaran, terjadi perjalanan yang arahnya dipengaruhi oleh lidah api dan materi yang menjalarkan panas. Sifat penjalarannya biasanya kearah vertikal sampai batas tertentu yang tidak memungkinkan lagi penjalarannya, maka akan menjalar kearah horizontal. Karena sifat itu, maka kebakaran pada gedung – gedung bertingkat tinggi, api menjalar ketingkat yang lebih tinggi dari asal api tersebut.
Saat yang paling mudah dalam memadamkan api adalah pada tahap pertumbuhan. Bila sudah mencapai tahap pembakaran, api akan sulit dipadamkan atau dikendalikan.
Klasifikasi Pertumbuhan
Waktu Pertumbuhan / Growth Time
( detik )
Tumbuh Lambat ( Slow Growth )
> 300
Tumbuh Sedang  ( Moderete Growth )
150 – 300
Tumbuh Cepat ( Fast Growth )
80 – 150
Tumbuh Sangat Cepat (Very Fast Growth )
< 80
                                       Tabel Laju Pertumbuhan Kebakaran

F.              Pola Meluasnya Kebakaran
         Dari segi cara api meluas dan menyala, yang menentukan ialah meluasnya kebakaran. Bedanya antara kebakaran besar dan kebakaran kecil sebetulnya hanya terletak pada cara meluasnya api tersebut.
            Perhitungan secara kuantitatif tentang cara meluasnya kebakaran sukar untuk ditentukan. Tetapi berdasarkan penyelidikan – penyelidikan, kiranya dapat diperkirakan pola cara meluasnya kebakaran itu sebagai berikut :

      a.   Konveksi ( Convection ) atau perpindahan panas karena pengaruh aliran, disebabkan karena molekul tinggi mengalir ke tempat yang bertemperatur lebih rendah dan menyerahkan panasnya pada molekul yang bertemperatur lebih rendah.
         »    Panas dan gas akan bergerak dengan cepat ke atas ( langit – langit atau bagian dinding sebelah atas yang menambah terjadinya sumber nyala yang baru ).
         »    Panas dan gas akan bergerak dengan cepat melalui dan mencari lubang – lubang vertikal seperti cerobong, pipa – pipa, ruang tangga lubang lift, dsb.
         »    Bila jalan arah vertikal terkekang, api akan menjalar kearah horizontal melalui ruang bebas, ruang langit – langit, saluran pipa atau lubang – lubang lain di dinding.
         »    Udara panas yang mengembang, dapat mengakibatkan tekanan kepada pintu, jendela atau bahan – bahan yang kurang kuat dan mencari lubang lainnya untuk ditembus.
                           Gambar 8. 5. 3 Penjalaran Kebakaran secara Konveksi   
      b.   Konduksi ( Conduction ) atau perpindahan panas karena pengaruh sentuhan langsung dari bagian temperatur tinggi ke temperatur rendah di dalam suatu medium.
         »    Panas akan disalurkan melalui pipa – pipa besi, saluran atau melalui unsur kontruksi lainnya diseluruh bangunan.
         »    Karena sifatnya meluas, maka perluasan tersebut dapat mengakibatkan keretakan di dalam kontruksi yang akan memberikan peluang baru untuk penjalaran kebakaran.

AA1
                          Gambar 8. 5. 4 Penjalaran Kebakaran secara Konduksi

      c.               Radiasi ( Radiation )  atau perpindahan panas yang bertemperatur tinggi kebenda yang bertemperatur rendah bila benda dipisahkan dalam ruang karena pancaran sinar dan gelombang elektromagnetik. Permukaan suatu bangunan tidak mustahil terbuat dari bahan – bahan bangunan yang bila terkena panas akan menimbulkan api.
         »    Karena udara itu mengembang ke atas, maka langit – langit dan dinding bagian atas akan terkena panas terlebih dahulu dan paling kritis. Bahan bangunan yang digunakan untuk itu sebaiknya ialah yang angka penigkatan perluasan apinya ( fleme-spread ratings ) rendah.
         »    Nyala mendadak ( flash-over ) yang disebabkan oleh permukaan dan sifat bahan bangunan yang sangat mudah termakan api, adalah gejala yang umum di dalam suatu kebakaran. Kalau suhu meningkat sampai ± 4250 C atau gas – gas yang sudah kehausan zat asam tiba – tiba dapat tambahan zat asam, maka akan menjadi nyala api yang mendadak, dan membesarnya bukan saja secara setempat tetapi meliputi beberapa tempat.
         »    Sama halnya dengan cerobong sebagai penyalur ke luar dari gas – gas panas yang mengakibatkan adanya bagian kosong udara di dalam ruangan ( yang berarti pula menarik zat asam ), semua bagian – bagian yang sempit atau lorong – lorong vertikal di dalam bangunan bersifat sebagai cerobong, dan dapat memperbesar nyala api, terutama kalau ada kesempatan zat asam membantu pula perluasan api tersebut.

                          Gambar 8. 5. 5 Penjalaran Kebakaran secara Radiasi

G.           Penanggulangan Kebakaran

Telah diketahui bahwa dari suatu kejadian kebakaran dapat menimbulkan bermacam - macam akibat , antara lain korban jiwa dan harta benda .Tentunya kejadian tersebut tidak kita inginkan, oleh karena itu dipikirkan  tindakan dalam penanggulanganya . Pada umumnya penanggulangan bahaya kebakaran dapat dibagi menjadi 3 (tiga) tingkatan meliputi :

1.        Mencegah Terjadinya Kebakaran
Ialah merupakan tindakan - tindakan dilakukan guna mencegah terjadinya kebakaran .tindakan tindakan - tindakan tersebut harus dilakukan oleh setiap orang untuk itu diharapkan pengertian dan kesadaran agar dapat melaksanakan apa yang menjadi tujuan, maka perlu adanya pengarahan dan bimbingan mengenai pencegahan bahaya kebakaran kepada semua orang ,khususnya yang berada dilingkungan kerja .
2.        Perlindungan Bahaya Kebakaran
Ialah merupakan tindakan yang dilakukan guna melindungi dari bahaya kebakaran sehingga tidak turut terbakar dalam batas waktu tertentu atau mencegah meluasnaya kebakaran ketempat lain sebelum pnanggulangan lebih lanjut
3.      Pemadam Kebakaran
Ialah merupakan salah satu tindakan dalam penanggulangan kebakaran bersifat represif.

H.       Cara Untuk Memadamkan Kebakaran

Agar bisa memadamkan secara cepat, perlu difahami segitiga api seperti yang telah diuraikan diatas yaitu menghilangkan salah satu unsur dari segitiga api.
Selain itu harus ada sarana dan prasarana alat pemadam kebakaran. Alat yang sifatnya tradisional masih bisa dipakai seperti karung goni, pasir, termasuk keperluan komunikasi kentongan dll. Sedang untuk alat pemadam kebakaran yang sifatnya umum antara antara lain Hidrant, Mobil pemadam kebakaran, Alat pemadam api ringan (APAR), sprinkler, dll.
Disamping itu alat pemadam api lain yang mempunyai sifat sebagai racun api, antara lain karbon dioksida, Bahan Kimia kering multi guna dan bubuk kering. Dari beberapa macam alat pemadam api tersebut masingmasing mempunyai kegunaan dan aturan tersendiri.

Inilah contoh gambar Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhC9OiL-N1T2cMRAcTMYzPQ10Z_1PbcOcHkFZLwhZSjG07vhkO4RdGpd4nHoSsS4L_bqSSGKLQ6ZAC_8vILxCFCmi-CPN9AkD6bfG9ZZ42Q3gnSrDwzOKCnsCV9LE_2v8eKz-X_8Ogye28C/s320/apar.jpg


I.          Media Pemadaman Api
Media pemadam api menurut fasanya dibagi menjadi 3 bagian yaitu :
·         Jenis padat : misalnya pasir,tanah,selimut api, tepung kimia (dry chemical)
·         Jenis cair : misalnya air, busa
·         Jenis gas : misalnya gas asam arang (CO2), Halon 1102
Beberapa jenis media pemadam tersebut diterangkan sebagai berikut :
Metode Pemadaman Api
a.         Pasir
Pasir efektif digunakan untuk memadamkan kebakaran kelas B yaitu tumpahan minyak atau ceceran minyak. Tujuan utama dari penggunaan psir ini berfungsi untuk membatasi menjalarnya kebakaran, namun untuk kebakaran kecil dapat digunakan untuk menutupi permukaan bahan yang terbakar sehingga memisahkan udara dari proses nyala yang terjadi, sehingga nyala padam.
b.        Tepung Kimia
Menurut kelas kebakaran yang dipadamkan tepung kimia dibagi menjadi sebagai berikut :
Ø Tepung kimia reguler (untuk kebakaran kelas B dan C).
Misalnya : Purple K, Plus 50 C, Monnex, Super K.
Ø  Tepung kimia serbaguna (multipurpose), untuk kebakaran kelas ABC. Misalnya :Monoamonium Phosphate (MAP).
Ø  Tepung khusus untuk kebakaran logam (kelas D), misalnya : Met-L-X, TEC, Lith X Powder dll.
·         Ciri-ciri tepung kimia (dry powder) adalah :
Ø  Butiran relatif seragam dengan diameter 15-60 mikron,
Ø  Tidak beracun
Ø  Untuk mencegah sifat higrokopis (mengisap air) dan penggumpalan, serta untuk memberikan daya pengaliran yang lebih baik, maka ditambah “logam stearate” serta bahan-bahan tambahan (additives tambahan).
Ø  Walaupun cocok untuk kebakaran kelas C (listrik), tetapi dapat merusak instalasi atau peralatan elektronik karena meninggalkan kotoran/kerak.
Ø  Bagi manusia, segi bahayanya adalah dapat merusak pandangan dan mengganggu pernafasan.
·         Cara kerja tepung kimia dalam memadamkan api :
Ø  Secara fisis, yaitu pemisahan atau penyelimutan bahan bakar dengan udara.
Ø  Secara kimia, yaitu memutus rantai reaksi pembakaran, dimana partikel-pertikel tepung kimia tersebut akan mengikat radikal hidroksil dari api.
c.         Air
Air cocok untuk memadamkan kebakaran kelas A dan B. Dalam pemadaman kebakaran air yang paling banyak dipergunakan. Hal tersebut karena air mempunyai keuntungan sebagai berikut :
·       Mudah didapat dalam jumlah yang banyak.
·       Murah
·       Mudah disimpan, diangkut dan dialirkan
·       Dapat dipancarkan dalam berbagai bentuk
·       Mempunyai daya 'menyerap panas' yang besar, yang menjadi ciri utama dari media pemadam air.
·       Mempunyai daya mengembang uap yang tinggi.
Kelemahan air sebagai media pemadam, antara lain :
·       Menghantar listrik sehingga tidak cocok untuk kelas C.
·       Berbahaya bagi bahan-bahan kimia yang larut dalam air atau yang eksotherm
(menghasilkan panas).
·       Dapat terjadi 'slop over' bila digunakan untuk memadamkan minyak secara langsung
Cara kerja air dalam pemadaman api adalah secara fisis :
·      Pendinginan, air mempunyai daya serap yang besar. Panas yang diserap dari 15 °C sampai 100 °C adalah 84,4 kcl/kg (152 BTU/1bbs).
·      Penyelimutan, karena air yang terkena panas akan berubah menjadi uap (steam), dan uap air tersebut kemudian mengurangi kadar oksigen dalam air (dillution).

d.        Busa (Foam)
Busa adalah kumpulan dari gelembung-gelembung cairan (bubbles) yang mengapung diatas permukaan zat cair dan mengalir pada permukaan bahan padat. Dari bentuk fisik busa tersebut maka sangat efektif untuk memadamkan kebakaran kelas A dan B, terutama pada permukaan yang terbakar sangat luas, sehingga sulit bagi media pemadam lain untuk menjangkau tipe kebakaran tersebut.
Media pemadam ini terdiri atas 2 jenis yaitu busa kimia maupun busa mekanik. Ditujukan terutama untuk memadamkan kebakaran kelas B, dan secara terbatas juga untuk kebakaran kelas A.
1.        Busa Kimia
Busa ini terbentuk karena adanya proses (reaksi) kimia antara larutan Aluminium Sulfat dengan larutan natrium bikarbonat.
Reaksinya adalah :
            A12(SO4)3 + 6NaHCO3→ 2A1(OH)3+3Na2SO4 + 6CO2


2.        Busa Mekanik
Busa ini terbentuk karena adanya proses mekanis yaitu berupa adukan dari bahan-bahan pembentuk busa yang terdiri dari cairan busa, air bertekanan, dan udara.
Untuk melaksanakan proses pembentukan busa ini dipergunakan alat-alat pembentuk busa. Proses pembentukan busa adalah sebagai berikut : Air dicampurkan degan cairan busa sehingga membentuk larutan busa (foam solution). Kemudian udara dicampurkan pada larutan busa dengan proses mekanis yaitu adanya pengadukan atau peniupan udara maka terbentuklah busa mekanis.  Bahan baku busa mekanis antara lain : Fluoro protein (FP70), Fluorocarbon surfactant (AFFF), Hydrocarbon surfactant (Louryl alcohol).

J.          Alat Pemadam, Karakteristik dan Sifat Pemadamannya
3.         Hydrospray
Alat pemadam dengan air ini umumnya digunakan untuk kebakaran kelas A. Alat ini biasanya dilengkapi dengan penera untuk mengetahui tekanan air. Penera berwarna hijau menunjukkan alat aman untuk digunakan, sedangkan warna merah menunjukkan tekanan sudah berkurang.
4.         Drychemical Powder
Jenis bubuk kering digunakan untuk kelas A,B, C dan D, sedang sifat pemadaman jenis bubuk kering antara lain :
·         Menyerap panas dan mendinginkan obyek yang terbakar. 
·         Menahan radiasi panas. 
·         Bukan penghantar arus listrik. 
·         Menutup dengan cara melekat pada obyek yang terbakar karena adanya reaksi kimia bahan tersebut saat terjadi kebakaran (reaksi panas api). 
·         https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj6aeFPYgywdeuP8gEkim8rZoAW4DSSce_1nC2E2PfHvH3JmfAHl4SVUWD_5K3YiQwXGH-SqkBroOzAfEx6rOK84hEIVd024vpzt74f21y2tqmowQRYXiyafBh8KNjQ-syiL-OTBHc1JrQ1/s1600/halon+free.jpgMenghambat terjadinya oksidasi pada obyek yang terbakar.
·         Tidak berbahaya. 
·         Efek samping yang muncul adalah debu dan kotor.
·         Dapat berakibat korosi dan kerusakan pada mesin ataupun perangkat elektronik.
·         Sekali pakai pada tiap kejadian.

5.         Gas Cair Hallon Free/AF 11/Halotron 1
Alat pemadam gas cair ini bisa digunakan untuk semua jenis klasifikasi kebakaran. Sifat alat pemadam ini antara lain :
·         Bukan penghantar listrik
·         Tidak merusak peralatan 
·         Non Toxic (tidak beracun)
·         Bersih tidak meninggalkan bekas.
·         Memadamkan api dengan cara mengikat O2 disekitar area kebakaran
·         Penggunaan yang multi purpose (semua klas kebakaran)
·         Bisa digunakan berulang-ulang 
·         Lebih tepat digunakan di dalam ruang
6.             busa mekanik (Mechanical Foam Extinguisher).

Sistem pendorong : tekanan dorong diperoleh dari gas CO2, baik dengan cara tabung gas (Gas cartrige) maupun tekanan tersimpan (Stored Pressure).
Konstruksinya terdiri dari berbagai jenis :
Tipe gas Cartrige.
Tipe stored-pressure.
Pemakaian APAR jenis busa
Pada kepala bejana sering dilengkapi dengan katup pengatur, dan pada nozzle terdapat sistem pengisi ventury untuk memasukkan udara gelembung busa . Keuntungan yang dimiliki APAR tipe ini dibandingkan dengan tipe busa kimia, adalah :
·           Daya pemadamannya tinggi.
·           Aliran busa dapat dikendalikan oleh operator, sehingga memudahkan pemadaman.
·           Sifat karat dari larutannya tidak setinggi allumunium sulfat.
Teknik atau cara penyampaian busa ketempat bakaran adalah :
·           Dinginkan wadah cairan yang terbakar.
·           Selama air masih keluar dari pemancar busa jangan sekali-kali air tersebut
dimasukkan ketempat yang terbakar.
·           Bila busa telah keluar dari pemancar, arahkan ketempat yang terbakar.
·           Pemasukan busa boleh dengan secara gravitasi atau ditembakkan kebagian dalam dinding wadah yang terbakar.
·           Bila api sudah padam, tetap dilakukan pendinginan dan penyemprotan busanya diarahkan keluar dari tempat yang terbakar.
7.         Carbon dioksida
Racun api CO2 ini cocok dan efektif digunakan untuk pemadaman api kelas B dan C.  CO2 atau karbondioksida dalam keadaan biasa wujudnya adalah gas yang tidak berwarna, tidak bau, lebih berat dari udara, tidak mengganggu kesehatan (sementara) serta tidak menghantar listrik.
Pengguanaan sebagai media pemadam pada kebakaran, cairan CO2 berubah wujudnya menjadi gas dan mengisap panas dari sekelilingnya serta sumber nyala dan mendesak udara keluar dari sekitar sumber serta proses pembakaran. Sebagai cairan CO2 disimpan dalam silinder dengan tekanan 1000-1200 psi.
Digunakan terutama untuk memadamkan kebakaran kelas B dan C. Umumnya APAR tipe ini mempunyai corong/nozzle penyemprot yang lebar.
Sifat-sifatnya antara lain :
§    Bersih tidak meninggalkan bekas.
§    Non Toxide ( tidak beracun ).
§    Bukan penghantar listrik.
§    Tidak merusak peralatan ( elektronik / mesin )
§    Cara pemadaman dengan mendinginkan dan menyelimuti obyek yang terbakar.
§    Tepat untuk area generator dan instalasi listrik.
§    Tekanan kerja sangat besar.
Cara-cara pemakaiannya :

·                Turunkan tabung CO2 dari tempatnya.

·                Lepaskan horn dari tempat jepitannya.

·                Putuskan  lead seal (pen pengaman).

·                Pegang horn dengan tangan kiri dan arahkan keatas.

·                Tekan katup dengan tangan kanan (tujuannya untuk mencoba alat ditempat sebelum  menuju kearah api).

·                Bila keadaan baik bawa ketempat kebakaran.

·                Semprotkan dengan mengarahkan horn kearah api dari arah datangnya angin dan usahakan agar menutup keseluruhan daerah permukaan api.

8.      Racun Api Busa
Racun api berupa busa hanya digunakan untuk jenis kebakaran kelas A dan B. Cara kerjanya menyelimuti dan membasahi obyek yang terbakar. Jika obyek yang terbakar benda cair, racun api busa ini bekerja menutup permukaan zat cair. Sifat lainnya yaitu penghantar arus listrik sehingga tidak dapat digunakan pada ruang yang berisi peralatan komponen listrik.

9.         https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgb8MmsQJEqzg7Z462QTwPo5rBxxMYjT_zEG6R9-qpMGIMeGkH3vvbG__detGVccvLjy8geeDXSVCtJ5bntmcFtlrJZGz26cS5yob7xYEctC7ad3NO4qhHoGA8PCQT6FcLxUxEcNdogqIZj/s1600/hidrispray.jpgFire Sprinkler System
Alat ini biasanya terinstal didalam gedung dan bersifat mengandung Hg. Mekanisme kerja sprinkler yaitu secara otomatis akan mengeluarkan air bila kepala sprinkler terkena panas. Prinsip dasar alat ini adalah mampu menyerap kalor yang dihasilkan dari bahan yang terbakar.
10.     Hydrant
Digunakan untuk jenis api kelas A dan B. Secara ringkas, penggunaan media racun api berdasarkan klasifikasi bahan terbakar jadi begini :





https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhA5GNsGHxF8RFLBbbdsJycikgPlKr2e7avK6YqUYqEB1-ytXo2ycs2ss8ZVRVr61Qp0CrCnZqf5-FXavKz6VFbc-KjvTegsV1MwcDDs91wo_jy7HcClJ_bfeQ0mhTTgSXsx8OAVSfvmZ8j/s1600/hidrant.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjAUVnn2yYu1llBExdxkOCwUGa828UDjbyhkX6NdCLcqdiCtqViFESDQGjdNTPtz7daE1k9UpAlS7DQlw_gqYe0iVS44Fo4_B48wFHuFfJCppt6J_RRTvu0C7c_HyUex2x9VU9WC4N4CkUj/s1600/media+racun+api.jpg

 







Agar bisa bekerja cepat dalam keadaan darurat perlu diperhitungkan persyaratan dan cara pemasangan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) yang antara lain :
  • Tempat mudah dilihat dan dijangkau, tidak boleh digembok atau diikat mati.
  • Jarak jangkauan maksimum 15 m.
  • Tinggi pemasangan maksimum 125 cm.
  • Jenis media dan ukuran sesuai dengan klasifikasi kebakaran dan beban api.
  • Diperiksa secara berkala.
  • Bisa diisi ulang (Refill).
  • Kekuatan konstruksi terstandar.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...